Contoh Metode Persediaan Perusahaan Dagang

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html

  Jika perusahaan sering membeli barang dan harga beli masing-masing pembelian berbeda, maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih ada di gudang.
Sebagai contoh data persediaan barang dagangan untuk bulan Januari 2017 sebagai berikut:

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html

Setelah dilakukan inventarisasi fisik, jumlah pesediaan per 31 Januari 2017 adalah 350 unit. Tentukan:
a.    Persediaan per 31 Januari 2017.
b.    Harga pokok persediaan yang dijual dalam bulan Januari 2017.
 Barang yang tersedian untuk dijual selama bulan Desember adalah 100 + 250 + 350 + 300 = 1.000 unit, maka barang yang dijual adalah 1.000 – 350= 650 unit. Karena harga belinya berbeda-beda, maka perlu asumsi arus barang yang akan digunakan sebagai dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir 

Jika Perusahaan Menggunakan Sistem Periodik.

  (1)   FIFO

Dengan metode ini jumlah barang yang digunakan sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang pertama kali dibeli, yaitu:
  100 unit       @ Rp 1000 = Rp 100.000
  250 unit       @ Rp 1200  = Rp  300.000
 300 unit        @ Rp 1100  = Rp  330.000
 Harga pokok penjualan    Rp  730.000

Selanjutnya persediaan yang 350 unit dianggap dari pembelian tanggal 22 dan 30 Desember 2017 dengan rincian sebagai berikut:
 50 unit             @ Rp 1100 = Rp 55.000
 300 unit          @ Rp 1300 = Rp 390.000
 Persediaan akhir :               Rp 445.000

     (2)  LIFO

Dengan metode ini jumlah barang yang dijual sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang terakhir dibeli, yaitu:
350 unit         @ Rp 1100 =  Rp 385.000
300 unit         @ Rp 1300 =  Rp 390.000
Harga pokok penjualan     Rp 775.000

Selanjut persediaan akhir 350 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 1 dan 12 Januari 2017, yaitu:
100 unit          @ Rp 1000 = Rp 100.000
250 unit          @ Rp 1200 = Rp 300.000
Persediaan akhir                 Rp  400.000

   (3). Metode Rata-rata

Untuk menghitung persediaan akhir dan harga pokok penjualan perlu dibuat perhitungan sebagai berikut:

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html
 Harga pokok penjualan = 650 x Rp 1.175 = Rp 763.750
      Persediaan akhir = 350 x Rp1.175 = 411.250
Jika perusahaan menggunakan Sistem Perpetual
Jika perusahaan menggunakan sistem perpetual, penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir dilakukan setiap perusahaan menjual barang. Untuk mempermudah pekerjaan menentukan harga pokok ini digunakan suatu kartu yang lazim disebut Kartu Persediaan. Satu jenis barang disediakan satu Kartu. Dengan demikian sistem ini baru cocok untuk persediaan yang nilainya tinggi.
Misalkan atas satu jenis barang diperoleh informasi sebagai berikut:

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html



    Metode Fifo

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html

  Metode Lifo

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html

    Metode Rata-rata

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/08/contoh-metode-persediaan-perusahaan_89.html

Baca Juga : Pengertian Metode Persediaan Perusahaan Dagang

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

Ads