Showing posts with label Manufaktur. Show all posts
Showing posts with label Manufaktur. Show all posts

Contoh Perhitungan HPP Perusahaan Manufaktur

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/11/contoh-perhitungan-hpp-perusahaan.html

Perusahaaan CV.Home Industri  yang bergerak di bidang manufaktur pembuatan baju. Di awal bulan Desember, diketahui:

Persediaan bahan baku (Bahan Baku mentah ) : Rp 70.000.000 .
Bahan setengah jadi(Bahan dalam proses)  : Rp 120.000.000
Persediaan Barang jadi : Rp 130.000.000

Untuk proses produksi bulan Desember,Cv.Home Industri membeli bahan baku senilai  Rp 30.000.000 di tambah biaya pengiriman Rp 8.000.000. Sedangkan selama proses produksi timbul biaya pemeliharaan biaya mesin sebesar Rp 7.500.000. dan biaya TKL Rp 3.000.000

Di akhir bulan Desember di ketahui :   Sisa penggunaan bahan  : Rp 20.000.000   Sisa baju setengah jadi : Rp 30.000.000   .Sisa baju siap jual : Rp 60.000.000   Berapa Harga Pokok Penjualan (HPP) CV.Home Industri ?..

Tahap 1 

*Menghitung Bahan Baku yang Digunakan
Bahan Baku yang Digunakan = Saldo Awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku – Saldo Akhir Bahan Baku
Bahan Baku yang telah di gunakan ( Rp 70.000.000 + Rp 30.000.000 + Rp 8.000.000 - Rp 20.000.000 = Rp 88.000.000 )

Tahap 2 

*Menghitung Biaya Produksi  
Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi
Total Biaya Produksi  (Rp 88.000.000 + Rp 3.000.000 +  Rp 7.500.000 = Rp 98.500.000

Tahap 3 

*Menghitung Harga Pokok Produksi 
Harga Pokok Produksi = Total biaya produksi + saldo awal persediaan barang dalam proses produksi – saldo akhir persediaan barang dalam proses produksi.
Harga Pokok Produksi  = ( Rp 98.500.000 + 120.000.000 - Rp 30.000.000 = Rp 188.500.000 )

Tahap 4 

*Menghitung Harga Pokok Penjualan  
HPP = Harga pokok produksi + Persediaan barang awal – persediaan barang akhir
Harga Pokok Penjualan = ( Rp 188.500.000 + Rp 130.000.000 - Rp. 60.000.000 = Rp 258.500.000

Jadi Harga Pokok Penjualan CV.Home Industri pada bulan Desember adalah Rp 258.500.000

Untuk tabel format nya seperti di bawah ini.

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/11/contoh-perhitungan-hpp-perusahaan.html

Baca Juga : Rumus Menghitung HPP Manufaktur



Rumus Menghitung HPP Di Perusahaan Manufaktur

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/11/rumus-menghitung-hpp-di-perusahaan.html

Dalam perusahaan manufaktur, cara menghitung HPP sedikit lebih rumit jika di bandingkan menghitung HPP perusahaan dagang. Ada empat tahap mengenai cara menghitung HPP perusahan manufaktur. Diantaranya :
  1. Menghitung Bahan Baku
  2. Menghtung Biaya Produksi
  3. Menghitung Harga Pokok Produksi
  4. Menghitung Harga Pokok Penjualan
untuk lebih jelasnya,perhatikan tahap-tahap dan rumus di bawah ini :

Menghitung Bahan Baku Yang Dipakai 

Pada tahap pertama, kita perlu menghitung bahan baku yang digunakan dalam proses produksi. Rumusnya adalah:  Bahan Baku yang Digunakan = Saldo Awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku – Saldo Akhir Bahan Baku  .

Menghitung Biaya Produksi  

Tahap selanjutnya adalah menghitung biaya produksi. Rumus menghitung biaya produksi adalah:   Total Biaya Produksi = Bahan Baku yang Digunakan + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik.

Menghitung Harga Pokok Produksi   

Tahap ketiga adalah menghitung harga pokok produksi. Untuk tahap ini kita menggunakan rumus:   Harga Pokok Produksi = Total Biaya Produksi + Saldo Awal Persediaan Barang dalam Proses Produksi Saldo Akhir Persediaan Barang dalam Proses Produksi .

Menghitung Harga Pokok Penjualan

 Di tahap keempat sekaligus tahap terakhir kita menghitung harga pokok penjualan. Rumus HPP adalah sebagai berikut:   HPP = Harga Pokok Produksi + Persediaan Barang Awal  – Persediaan Barang Akhir .

Baca juga : Contoh Perhitungan HPP Perusahaan Manufaktur


Fungsi Dan Contoh Jurnal Penyesuaian

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Pengertian Jurnal Penyesuaian ( adjusting journal entry ) adalah proses pencocokan, mengenai catatan atau fakta yang sebenarnya terjadi pada akhir masa periode akuntansi. Penyusunan jurnal penyesuaian diambil dari data neraca saldo dan data informasi penyesuaian akhir periode. (Perbedaan Aktiva Lancar dan Tidak Lancar)  Sedangkan ayat jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat dalam proses pencatatan perubahan saldo dalam beberapa akun. Sehingga saldo menggambarkan jumlah saldo yang sebenarnya.
 jurnal penyesuaian ini memiliki dua fungsi, Yaitu : Menetapkan saldo catatan akun buku besar pada masa akhir periode, sehingga setiap perkiraan saldo yang didapat akan menjadi rill,untuk perkiraan harta dan kewajiban menunjukan jumlah yang sebenarnya.Dan Menghitung setiap perkiraan nominal pendapatan dan beban yang sebenarnya selama periode yang bersangkutan.

Ada beberapa akun yang memerlukan jurnal penyesuaian , di antaranya :

  • Penyusutan aktiva tetap
  • Beban di bayar dimuka
  • Beban yang masih harus dibayar
  • Pendapatan yang masih harus diterima
  • Pendapatan diterima dimuka
  • Pemakaian barang habis pakai

1.Penyusutan Aktiva Tetap

 Nilai aktiva tetap yang dimanfaatkan pada periode berjalan merupakan nilai penyusutan atau penghapusan (depreciation) dari aktiva tetap. Nilai penyusutan aktiva tetap ditampung dalam bentuk akun kontra (contra asset account) yang disebut akumulasi penyusutan (accumulated depreciation). Akun tersebut termasuk dalam kelompok aktiva namun bersifat kontra atau berlawanan. Aturan saldo normal akumulasi penyusutan merupakan kebalikan dari aktiva yang bersangkutan. Bertambahnya akun akumulasi penyusutan aktiva tetap akan dicatat pada sisi kredit.  Pada waktu penyesuaian dilakukan, jumlah nilai aktiva yang disusutkan untuk periode berjalan akan dicatat dalam akun beban
 penyusutan aktiva tetap.
Contoh : Tanggal 8 Januari 2017 dibeli Mobil seharga Rp 240.000.000 yang memiliki umur ekonomis 8 tahun dan tidak ada nilai residu pada akhir umur ekonomisnya. Nilai penyusutan per tahun untuk kendaraan tersebut dapat dihitung sebagai berikut.


 Penyusutan tahunan = 1/8 x 240.000.000 = 30.000.000  Jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2017 sebagai berikut:


https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html


 Jika pada akhir periode umur ekonomisnya terdapat nilai residu (nilai sisa) sebesar Rp 30.000.000 , maka penyusutan tahunannya sebagai berikut: Penyusutan tahunan = 1/8 x ( 240.000.000 – 30.000.000 ) = 210.000.000

2.Beban Dibayarkan Di Muka

 Beban dibayar di muka merupakan akun campuran, yaitu suatu akun yang di dalamnya terdapat sebagian nilai yang harus masuk ke dalam akun riil dan sebagian lagi harus masuk ke dalam akun nominal. Akun tersebut diperlukan dengan dua cara . Saat Pembayaran Dicatat sebagai Harta Jika pada saat pembayaran dianggap sebagai harta maka akun yang digunakan untuk mencatat transaksi tersebut ialah akun “beban dibayar di muka”. Walaupun ada istilah beban, akun tersebut merupakan aktiva, yakni aktiva lancar. Pada akhir periode harus dipisahkan berapa nilai beban periode berjalan (beban yang benar-benar terjadi) dan beban periode yang akan datang (beban yang belum terjadi) dari akun tersebut.

Contoh :  5 Juni 2017 dibayar beban asuransi untuk periode 1 tahun sebesar 6.000.000 Pada saat terjadi transaksi dibuat jurnal sebagai berikut.

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Pada akhir periode dilakukan penyesuaian dengan menghitung beban periode berjalan dan beban periode mendatang.

 Beban periode berjalan = 7/12 × Rp 6.000.000 = Rp 3.500.000 . Beban periode mendatang = 5/12 × Rp 6.000.000 = Rp 2.500.000 .Berdasarkan analisis tersebut maka dibuatlah jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2017


 Saat Pembayaran Dicatat sebagai Beban
Jika saat pembayaran dicatat sebagai beban / Pendekatan Laba Rugi maka akun yang digunakan pada saat pencatatan ialah akun “beban asuransi”. Berdasarkan kasus pada contoh di atas maka pada saat pembayaran dibuatlah jurnal penyesuaian seperti berikut.

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html
 Karena pada saat pembayaran dicatat sebagai beban,maka yang dikeluarkan dari akun beban asuransi adalah nilai yang menjadi beban periode mendatang, yaitu 5 bulan. Beban periode mendatang, yaitu: 5/12 × Rp 6.000.000,00 = Rp 2.500.000  Maka, jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2017

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

3.Beban yang Masih Harus Dibayar

Beban Terhutang  yang masih harus dibayar juga memerlukan jurnal penyesuaian pada akhir periode, diketahui ada beban yang masih harus dibayar, transaksi tersebut harus dicatat dalam jurnal penyesuaian.
Contoh : gaji karyawan bulan Desember 2017, baru akan dibayarkan tanggal 5 Januari 2018, sebesar Rp3.600.000 .Maka jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2017

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

4.Pendapatan yang Masih Harus Diterima

Sama halnya dengan beban terhutang, pada akhir periode mungkin ada sejumlah pendapatan jasa yang pembayarannya belum diterima.
Contoh:, pada akhir periode terdapat pendapatan yang masih harus diterima pembayarannya sebesar Rp 7.000.000. Maka Jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2017 :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html
Untuk soal Kasus Perusahaan menerima bunga bank dua kali dalam setahun, yaitu 1 Mei dan 1 November sebesar Rp 600.000. Jadi, sampai dengan 31 Des perusahaan masih harus menerima pendapatan bunga untuk 2 bulan yaitu bulan , Nopember, dan Desember, yang belum diterima, sehingga perlu dilakukan penyesuaian sebagai berikut: 2/6 x Rp 600.000 = Rp 200.000 Jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember sebagai berikut:

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

 4.Pendapatan yang Diterima Di Muka

( Saat Permintaan Pendapatan Dicatat sebagai Hutang ) Jika pada saat penerimaan pendapatan dicatat sebagai Hutang atau di catat menggunakan Metode pendekatan Neraca ,maka akun yang digunakan untuk transaksi tersebut adalah akun “pendapatan diterima di muka ”. Walaupun menggunakan istilah pendapatan, sebenarnya sifat akun tersebut ialah Hutang ( Kas Bon )
 Contoh : tanggal 1 Februari 2017 diterima pendapatan atas sewa Kantor untuk 1 tahun sebesar Rp 24.000.000. Pada saat terjadi transaksi, maka jurnal yang dibuat :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Pada saat Akhir periode 31 Desember 2017,maka jurnal yang di buat :
https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Saat Penerimaan sewa kantor Dicatat sebagai Pendapatan atau dengan metode pendekatan Laba Rugi.
Jika penerimaan pendapatan dicatat sebagai pendapatan sewa maka akun yang digunakan untuk mencatat transaksi tersebut ialah akun “pendapatan sewa”. Berdasarkan contoh di atas, maka pada saat terjadi transaksi penerimaan pendapatan dibuat jurnal

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Pendapatan yang belum menjadi hak perusahaan adalah = 1/12 × Rp 24.000.000 = Rp 2.000.000 maka Jurnal penyesuaian saat tanggal 31 Des 2017 adalah :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

 Pemakaian Perlengkapan (Supplies)

Akun “perlengkapan kantor '' termasuk ke dalam akun campuran, yaitu sebagian masuk kelompok harta (perlengkapan) dan sebagian masuk kelompok beban (pemakaian perlengkapan). Nilai perlengkapan pada akhir periode dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan fisik terhadap persediaan perlengkapan.
Contoh selama periode akuntansi dilakukan beberapa kali pembelian perlengkapan kantor,sehingga dalam neraca saldo terdapat akun perlengkapan kantor (office supplies) sebesar Rp 10.000.000, saat dilakukan pemeriksaan fisik pada akhir periode tanggal 31 desember 2017. Diketahui persediaan perlengkapan kantor yang tersisa sebesar Rp 800.000. Berdasarkan data tersebut, besarnya nilai perlengkapan yang menjadi beban adalah: ( Pemakaian = Rp 10.000.000 – Rp 800.000 = Rp 9.200.000.maka saat tanggal 31 desember 2017 di buat Jurnal penyesuaian seperti :


https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Jurnal penyesuaian selain berguna untuk menunjukkan data keuangan yang sebenarnya, berguna juga untuk memperbaiki kesalahan pencatatan. Perbaikan kesalahan cukup dilakukan pada saat menjurnal dan ditemukan sebelum posting ke buku besar. Jika kesalahan tersebut ditemukan setelah posting maka perbaikannya harus dilakukan dengan cara posting ulang.

Ada dua langkah pokok untuk memperbaiki kesalahan pencatatan
1. Mencatat kebalikan dari jurnal yang salah
2. Mencatat kembali jurnal yang benar.

Kedua langkah di atas dilakukan melalui jurnal penyesuaian.
Beberapa bentuk kesalahan yang mungkin terjadi, yaitu :
salah akun
salah jumlah
salah letak
kesalahan gabungan.

Contoh: Pada tanggal 18 Mei 2017 dibeli secara Tunai perlengkapan kantor seharga Rp 1.200.000. Jurnal saat terjadi transaksi adalah :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

saat tanggal 20 Mei 2017 Ketika akan diposting ke buku besar, diketahui jurnal tersebut salah akun. Langkah pertama penyesuaian adalah dengan menghapus jurnal yang salah :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html


Setelah selesai, kemudian dibuat ulang jurnal yang benar, dengan Jurnal.

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/fungsi-dan-contoh-jurnal-penyesuaian.html

Kesalahan pada contoh di atas merupakan kesalahan pencatatan nama akun. Pembelian perlengkapan harus dimasukkan pada akun perlengkapan bukan pada akun peralatan. Dalam kajian akuntansi keduanya memiliki perbedaan. Perlengkapan merupakan aktiva lancar sedangkan peralatan merupakan aktiva tetap.


Pengertian Dan Contoh Laporan Arus Kas

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/pengertian-dan-contoh-laporan-arus-kas.html

 Arus Kas Merupakan laporan yang menyajikan informasi tentang arus kas masuk dan kas keluar dan setara kas suatu entitas untuk suatu periode tertentu.

TUJUAN & KEGUNAAN 

  1. Mengevaluasi kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas, waktu dan kepastian dalam menghasilkannya; .
  2. Mengevaluasi struktur keangan entitas (termasuk likuiditas dan solvabbilitas) dan kemampuannya dalam memenuhi kewajiban dan membayar deviden.
  3. Memahami pos yang menjadi selisih antara L/R periode berjalan dengan arus kas neto dari kegiatan operasi (akrual)
  4. Membandingkan kinerja operasi antar entitas yang berbeda, karena arus kas neto dari laporan arus kas tidak dipengaruhi oleh perbedaan pilihan metode akuntansi dan pertimbangan manajemen, tidak seperti basis akrual yang digunakan dalam menentukan L/R entitas.
  5. Memudahkan pengguna laporan untuk mengambangkan metode untuk menilai dan membandingkan nilai kini arus kas masa depan antar entitas yang berbeda.

 KLASIFIKASI LAPORAN ARUS KAS 

Laporan Arus Kas, mempunyai tiga klasifikasi diantaranya adalah :

Aktifitas operasi
adalah aktifitas penghasil utama pendapatan entitas dan aktifitas lain yang bukan merupakan aktifitas investasi dan pendanaan.

Aktivitas Investasi
adalah aktifitas berupa perolehan dan pelepasan asset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.

Aktifitas pendanaan
adalah aktifitas yang mengakibatka perubahan dalam jumlah serta kompetisi kontribusi modal dan pinjaman entitas.


LANGKAH-LANGKAH DALAM PENYIAPAN LAPORAN ARUS KAS

  • Neraca Komparatif yang menyajikan jumlah perubahan aktiva dan kewajiban dan ekuitas dari awal hingga akhir periode .
  •  Laporan L/R periode berjalan berisi data yang membantu pembaca menemukan jumlah kas yang diterima dari atau di gunakan oleh operasi selama periode berjalan.
  • Data transaksi tertentu dari buku besar umum memberikan infromasi tambahan terinci yang dibutuhkan untuk menentukan bagaimana kas diterima dan digunakan selama periode berjalan.  

PENYUSUNAN LAPORAN ARUS KAS

Metode Langsung
yaitu menyajikan kelompok utama penerimaan kas bruto dan pembayaran kas bruto.

Metode tidak langsung
yaitu dimulai dengan laba rugi periode berjalan dan menyesuaikan laba rugi tersebut dengan transaksi non kas, akrual, dan tangguhan dari pos yang penghasilan atau pengeluaran dalam aktivitas inevestasi dan pendanaan.

Contoh :

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/pengertian-dan-contoh-laporan-arus-kas.html


https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/pengertian-dan-contoh-laporan-arus-kas.html


ARUS KAS METODE LANGSUNG  

         Memperinci arus kas actual dari kegiatan operasi entitas. Ketika metode ini digunakan maka informasi dapat diperoleh dari catatan akuntansi entitas atau dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan, dan pos-pos lain dalam laporan laba rugi komprehensif. Entitas dianjurkan untuk menggunakan metode langsung dalam penyusunan arus kas dari aktifitas operasi. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan oleh metode tidak langsung. Keuntungan metode langsung adalah menyajikan penerimaan dan pembayaran kas operasi. Metode ini lebih konsisten dengan tujuan laporan arus kas untuk menyediakan informasi tentang penerimaan kas dan pembayaran kas dibandingkan dengan metode tidak langsung yang tidak melaporkan peneriman kas dan pembayaran kas operasi.


https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/pengertian-dan-contoh-laporan-arus-kas.html
 NB :
RUMUS

        Untuk menghitung Penerimaan dari pelanggan = Pendapatan penjualan – Kenaikan Piutang Usaha ATAU Pendapatan Penjualan - Penurunan Piutang Usaha  Yaitu 45.000.000 – 2.000.000 = 43.000.000 

Untuk Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan = HPP + B. Operasi + (jumlah penyusutan – kenaikan persediaan + penurunan beban dbyr dmk – penurunan hutang usaha)  Jadi = 10.000.000+8.000.000 -(10.000.000-2.000.000+1.000.000-3.000.000) = 12.000.000*d    

Untuk Pembayaran deviden tunai = Kenaikan R/E – Laba Bersih  ATAU Penurunan R/E + Laba Bersih    jadi 18.000.000 – (-2.000.000) = 20.000.000

METODE TIDAK LANGSUNG (Metode Rekonsiliasi)  

Dengan metode ini arus kas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba rugi neto dipengaruhi oleh:
  • Perubahan persediaan dan piutang usaha serta utang usaha selama periode berjalan.
  • Pos nonkas, seperti penyusutasn, povisi, pajak tangguhan, keuntungan dan kerugian mata uang asing yang belum direalisasi, serta laba entitas asosiasi yang belum didistribusikan.
  • Pos lain yang berkaitan dengan aktifitas investasi atau pendanaan, misalnya laba dari penjualan asset tetap.  Keuanggulan metode tidak langsung dengan metode langsung adalah metode tidak langsung berfokus pada perbedaan antara laba bersih dan arus kas bersih dari kegiatan operasi. Artinya metode tidak langsung memberikan hubungan yang bermanfaat antara laporan arus kas dan laporan laba rugi serta neraca.

https://air-mata-daun.blogspot.com/2018/10/pengertian-dan-contoh-laporan-arus-kas.html
  NB :
RUMUS :

Pembayaran deviden tunai = Kenaikan R/E – Laba Bersih  ATAU Penurunan R/E + Laba Bersih    jadi 18.000.000 – (-2.000.000) = 20.000.000

Beban Penyusutan 10.000.000 *a berasal dari kenaikan akumulasi gedung dan peralatan Yi 5.000.000 + 5.000.000 = 10.000.000


Siklus Akuntansi Perusahaan Manufaktur



Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memiliki kegiatan Mengolah Bahan Baku menjadi barang jadi untuk dijual,Perusahaan Manufaktur menggunakan metode harga pokok proses untuk menentukan harga pokok produk.Ciri-ciri perusahaan manufaktur antara lain kegiatan produksi dilakukan terus menerus dan spesifikasi produk yang dihasilkan sama antara satu dan lainnya (standar). Pengertian Metode Harga Pokok Proses adalah cara menentukan harga pokok produk dimana total biaya produksi dibebankan kepada proses produksi selama periode yang bersangkutan dan dibagikan sama rata kepada produk yang dihasilkan dalam periode tersebut. 
Contoh: Industri Koveksi pakaian, Industri peralatan kantor, Industri mebel dan furniture, Industri peralatan rumah tangga (houseware), Industri kertas, Industri sepatu dan sandal, Industri lampu pijar, Industri permen (candies).Dll

Siklus Akuntansi Manufaktur
Siklus Akuntansi Manufaktur  bisa di bilang sedikit berbeda dengan Akuntansi Dagang,perbedaanya terletak dalam menentukan Harga Pokok Penjualan,dan Aktiva lancar yang ada pada neraca.
Manufaktur lebih banyak menggunakan rekening


Klasifikasi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur Proses

Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur proses sama seperti biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur pesanan, seperti biaya produksi, biaya penjualan dan biaya administrasi/umum. Klasifikasi biaya dalam perusahaan manufaktur proses di antaranya:


  Biaya Produksi (Production Costs)

  • Biaya bahan baku (Raw Material Cost) 
Biaya Bahan Baku adalah biaya yang terjadi karena pemakaian bahan baku dalam proses produksi dan menjadi bagian utama dari barang yang dihasilkan. Contohnya pemakaian kain dan Benang untuk perusahaan industri Koveksi Pakaian
  • Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
 Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk karyawan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Contohnya : Karyawan dengan gaji harian atau Borongan bagian Jahit , pemotongan Kain, uang lembur, uang jasa produksi, uang makan, dan sebagainya untuk perusahaan industri Konveksi .
  • Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya (Factory Overhead Cost)
 Biaya overhead pabrik adalah biaya yang dikeluarkan atau dibebankan untuk kegiatan produksi selain dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Contohnya seperti pemakaian bahan penolong Jarum,Kapas,Kancing.Plastik.biaya listrik,dan sebagainya untuk perusahaan industri Konveksi


  • Biaya Utama dan Konversi
biaya utama (prime cost) digunakan untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Hal ini karena kedua unsur biaya tersebut merupakan biaya paling utama dalam proses produksi. 

biaya konversi (conversion cost) digunakan untuk biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Hal ini di karenakan kedua unsur biaya tersebut diperlukan untuk merubah atau mengkonversikan bahan baku menjadi barang jadi.
  • Biaya Administrasi dan Umum (General and Admnistrations Expense)

Biaya Gaji Karyawan Administrasi & Umum (Office Salary Expense)
Contoh: Gaji manager, kasir, office boy, satpam, admin,accounting, dan sebagainya.
Biaya Utilitas Kantor (Office Utility Expense)
Contoh: Biaya listrik, telepon, air untuk bagian kantor.
Biaya Perlengkapan Kantor (Office Supplies Expense)
Contoh: pemakaian alat tulis kantor, tinta printer, pita mesin tik, formulir,Nota, buku, kertas, dan sebagainya.
  
Biaya asuransi bagian kantor (Office Insurance Expense)
Contoh: Alokasi biaya asuransi untuk bagian kantor dan Biaya lain yang berhubungan dengan kegiatan administrasi kantor.

Biaya Penjualan (Selling Expense)

Biaya Gaji Karyawan Penjualan (Selling Salary Expense)
Contoh: Gaji salesman, uang makan, komisi penjualan, dan sebagainya
Biaya promosi (Promotion Expense)
Contoh: Biaya pembuatan spanduk/banner, biaya iklan , dan sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan promosi.
Biaya komisi order ( Commision Expense)
Contoh: komisi untuk pemberi order, dan sebagainya
Biaya transport penjualan (Transportation Expense)
Contoh: Biaya Bensin mobil angkut, biaya servis mobil, uang transport harian, dan sebagainya.
Biaya asuransi bagian penjualan (Selling Insurance Expense)
Contoh: Alokasi biaya asuransi mobil Angkut, biaya asuransi kantor bagian penjualan.

Klarifikasi Persediaan Dalam Perusahaan Manufaktur

Dalam perusahaan Manufaktur ada 3 jenis persediaan di antaranya :
Persediaan Bahan Baku
Persediaan Bahan Penlolong
Persediaan Dalam Proses
Persediaan Barang Jadi

1. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory)

 Persedian bahan baku atau bahan mentah adalah akun yang menunjukkan nilai harga pokok persediaan bahan baku yang tersedia pada suatu saat tertentu dan siap digunakan untuk proses produksi. Nilai persediaan akhir bahan diperoleh dari persediaan awal bahan ditambah dengan jumlah pembelian bersih bahan dan dikurangi dengan jumlah pemakaian bahan yang telah digunakan untuk produksi dalam satu periode. Contoh: Persediaan Kain , Benang,  perusahaan industri konveksi / Garment

2.Persediaan Bahan Penolong (Sub Material Inventory)

Persedian bahan penolong adalah akun yang menunjukkan nilai harga pokok persediaan penolong yang tersedia pada suatu saat tertentu dan siap digunakan untuk membantu proses produksi. Nilai persediaan akhir bahan penolong diperoleh dari persediaan awal bahan penolong ditambah dengan jumlah pembelian bersih bahan penolong dan dikurangi dengan jumlah pemakaian bahan penolong yang telah digunakan untuk produksi dalam satu periode. Contoh:Jarum,Pelumas mesin,Kancing,Plastik,deterjen, dan sebagainya, untuk perusahaan industri Konveksi

3. Persediaan Barang Dalam Proses (Work In Process Inventory)

Persediaan barang dalam proses (BDP) merupakan akun yang menunjukkan nilai bahan, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang sudah digunakan dalam proses produksi tetapi baru setengah jadi ,belum selesai sebagai barang jadi pada akhir periode. Nilai persediaan akhir BDP diperoleh dari persediaan awal BDP ditambah dengan jumlah biaya bahan, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang telah digunakan untuk menyelesaikannya, kemudian dikurangi dengan nilai persediaan barang jadi yang selesai dalam satu periode.

4. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods Inventory)

Persediaan barang jadi adalah akun yang menunjukkan harga pokok barang yang sudah selesai dikerjakan dan nilai barang jadi yang masih ada pada akhir periode yang siap untuk dijual. Nilai persediaan akhir barang jadi diperoleh dari persediaan awal barang jadi ditambah dengan jumlah barang dalam proses (BDP) yang sudah selesai dikerjakan,dan dikurangi dengan harga pokok penjualan barang dijual dalam satu periode. Contoh: Persediaan barang jadi ,Kaos.kemeja.Celana dll di perusahaan industri konveksi

Pengertian Dan Contoh Jurnal Khusus

Jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi secara berulang-ulang.Jurnal khusus biasanya digunakan pada perusahaan dagang. Transaksi yang terjadi disuatu perusahaan tentunya berbeda sesuai dengan jenis perusahaannya. Jurnal khusus terdiri dari 5 macam Jurnal.Yaitu :
  1. Jurnal Pembelian
  2. Jurnal Pengeluaran Kas
  3. Jurnal Penjualan
  4. Jurnal Penerimaan Kas
  5. Jurnal Umum
    fungsi dari Jurnal Khusus
  1. Meringankan pekerjaan karena mudah ketika di Posting ke Buku Besar,
  2. Memungkinkan dilakukannya pembagian kerja,
  3. Mengghemat biaya dan tenaga dan
  4. Pengendalian Internal bisa dilaksanaknakan dengan baik.
  • Jurnal Khusus Pembelian

 Jurnal Pembelian ini hanya untuk mencatat pembelian barang dagang secara kredit maka analisis transaksi tersebut adalah pembelian barang dagang berada di debet, sedangkan Hutang Barang Dagang di sebelah kredit.

Contoh Jurnal Pembelian Barang Dagang:

  •  Jurnal Khusus Pengeluaran Kas,

 Jurnal Pengeluaran Kas adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat semua transaksi- transaksi yang berkaitan dengan pengeluaran Kas..

Contoh Jurnal Pengeluaran Kas :
  •  Jurnal Khusus Penjualan. 

Jurnal Penjualan merupakan jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi penjualan barang dagang secara kredit.
contoh jurnal penjualan :

  • Jurnal Penerimaan Kas. 

Jurnal Penerimaan Kas adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi penerimaan yang terjadi di dalam suatu perusahaan.

Contoh Jurnal Penerimaan Kas :

  •  Jurnal Umum. 

Jurnal Umum merupakan jurnal yang digunakan untuk mencatat semua transaksi yang tidak dapat dicatat pada jurnal khusus.

Contoh Jurnal Umum :


Perlu di ingat, Jurnal umum di gunakan untuk  transaksi-transaksi yang tidak berkaitan dengan akun
  • Penjualan
  • Pembelian
  • Pengeluaran Kas
  • Penerimaan Kas
yang biasanya dicatat dalam Jurnal Umum adalah:
  1. Retur pembelian barang dagang, yang dahulu dibeli dengan kredit
  2. Retur penjualan barang dagang, yang dahulu dijual dengan secara kredit
  3. Pengubahan utang usaha menjadi utang wesel;
  4. Pengubahan piutang usaha menjadi piutang wesel;
  5. Penjualan sebagian aktiva tetap yang sudah tidak layak pakai secara kredit;
  6. Pengurangan harga.
  7. Penyusutan Aktiva 

Baca juga : Contoh jurnal penutup

Ads